Pemasangan APO Sederhana dan Penanaman Mangrove Di Wilayah Pesisir Pantai Muara Beting

Main Article Content

Muhammad Sofyan

Abstract

Pantai Beting memiliki posisi yang sangat strategis dari aspek lingkungan. Sumber daya laut yang melimpah dan satwa langka seperti Lutung Jawa serta Burung Rawa merupakan potensi yang harus dilestarikan. Habitat hutan Mangrove telah dirubah menjadi tambak oleh penduduk Pantai Beting. Deforestasi ini menyebabkan kondisi Pantai Beting sangat rentan dan tidak memiliki green belt dari abrasi dan ROB yang sedang terjadi. Kampung Beting saat ini banyak ditinggalkan oleh penduduknya karena lahannya tidak lagi berdaya guna. Jika demikian maka, hilangnya kawasan ini dapat menjadi ancaman dikemudian hari. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu konservasi habitat hutan mangrove yang berfungsi sebagai plasma nutfah dan kunci pengembalian ekosistem laut serta meningkatkan perekonomian warga. Upaya penyelamatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penanaman kembali dan memastikan bibit dapat tumbuh dalam kondisi pasang surut akibat ROB. Sebanyak 1000 bibit mangrove telah ditanam pada 24 dan 25 Februari 2020. Sebagai penunjang keberhasilan penanaman mangrove, sepanjang 100m Alat Pemecah Ombak sederhana telah dipasang. Perpaduan dari bambu dan jaring yang terbuat dari plastic yang  disebut APO Semi Hybrid. Efektivitas ekosistem Mangrove tidak dirasakan secara instan, akan tetapi pada 5 sampai 10 tahun mendatang. Dengan demikian, perbaikan Pantai Beting tidak hanya aspek fisiknya saja, akan tetapi peningkatan keamanan, daya guna lahan, dan kesejahteraan penduduknya dimasa yang akan datang.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Articles

References

[1] M. VITASARI, “Kerentanan Ekosistem Mangrove terhadap Ancaman Gelombang Ektrim/Abrasi Di Kawasan Konservasi Pulau Dua Banten,” Bioedukasi J. Pendidik. Biol., vol. 8, no. 2, p. 33, 2015, doi: 10.20961/bioedukasi-uns.v8i2.3870.
[2] A. A. Akbar, J. Sartohadi, T. S. Djohan, and S. Ritohardoyo, “Erosi Pantai, Ekosistem Hutan Bakau dan Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Kerusakan Pantai Di negara Tropis (Coastal Erosion, Mangrove Ecosystems and Community Adaptation to Coastal Disasters in Tropical Countries),” J. Ilmu Lingkung., vol. 15, no. 1, p. 1, 2017, doi: 10.14710/jil.15.1.1-10.
[3] R. Novianty, S. Sastrawibawa, and D. Prihadi, “Identifikasi Kerusakan Dan Upaya Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Di Pantai Utara Kabupaten Subang,” J. Akuatika Indones., vol. 2, no. 2, p. 244613, 2011.
[4] I. Munandar, Kusumawati, “Studi analisis faktor penyebab dan penanganan abrasi pantai di wilayah pesisir aceh barat,” J. Perikan. Trop., vol. 4, no. 1, pp. 47–56, 2017.
[5] K. Damaywanti, “Dampak Abrasi Pantai terhadap Lingkungan Sosial (Studi Kasus di Desa Bedono , Sayung Demak),” Pros. Semin. Nas. Pengelolaan Sumberd. Alam dan Lingkung., pp. 363–367, 2013.
[6] BNPB, 2015, Resiko Bencana Indonesia (RBI).
[7] Hilmi dkk, 2017, Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 4, No. 2.
[8] Kemenko Kemaritiman, KLHK, dan BNPB, 2018, Sebaran Mangrove Kritis Indonesia Pada Daerah Bahaya Tsunami di Indonesia.
[9] Suryani, L.D. 2017. Rekomendasi Untuk Pelestraian Ekosistem Mangrove Dunia.
[10] Wijayanti, Sri Hapsari, 2018, Jurnal Pengabdian Masyarakat Wikrama Parahita.